Piece Of Dreamer |
simply life with many dreams will be come true <3 |
Ada kembang api yang melintas di atas kepala ku. Jalanan ini begitu ramai, di sekeliling banyak pasangan yang menghabiskan waktu bersama, memesan secangkir kopi atau segelas coklat panas beserta hidangan lezat dari setiap café. Bangku-bangku di sekitar jalan ini ramai. Anak-anak kecil berlarian, berteriak, menggandeng ayah-ibu mereka, ramai, sungguh malam yang sangat ramai. Kembang api sedari tadi tak berhenti, sayang. Masih terus menyala, di atas lampion-lampion taman yang juga tak kalah terangnya. Warnanya menyilaukan mata. Di sekitar ku, mereka yang sedang berbahagia dengan orang-orang tercintanya mengambil foto dengan beberapa gaya. Mereka semua memanfaatkan suasana yang begitu indah, sayang. Beberapa dari anak-anak kecil yang sedari tadi berlari tiba-tiba berteriak, takut dan histeris. Barongsai datang. Iya, hewan raksasa itu datang menghampiri para manusia yang sedang menikmati malam di jalan itu. Sungguh bising dan riuh. Tapi di balik itu banyak yang tersenyum, sayang. Merasa terhibur dengan kedatangan barongsai. Ini akhir pekan, jadi wajarlah bila tempat ini begitu ramai. Apalagi esok adalah hari Imlek. Ya sayang. Esok adalah tahun baru Imlek. Kali ini tanpa mu. Atau malah selalu tanpa mu?…
-untuk siapa saja yang merayakan imlek :)
The Exile’s Choice, Victor Hugo
Kalimat ini seolah terus berlari-larian di pikiran gue sejak saat gue udah mulai tau berapa IP pertama dari temen-temen gue di kampus. Nah iya, IP per-ta-ma di semester 1 kuliah. Siapa sih yang gak penasaran sama nilainya? Sama hasil kerja kerasnya yang kurang lebih selama 6 bulan ini lo perjuangin tuh ngantuk-ngantuk bangun pagi lalu pergi ke kampus cuma buat kuliah terus balik malem ngerjain tugas bahkan sampe gak tidur cuma buat belajar UAS? Oke ini berlebihan tapi emang itu yang gue lakuin di semester awal perkuliahan. Sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia pastinya gue berharap banget bisa dapetin IP yang bagus. Entah kenapa rasa optimis gue ini muncul tiap kali gue abis nyelesaiin tugas yang susahnya dan banyaknya nauzubillah. Gue selalu optimis dengan setiap apa yang udah gue kerjain secara maksimal. Pas tau bahwa temen gue, tepatnya Olin anak Pendidikan kelas A yang IPnya 4,00 gue langsung shock mendadak. Wow! Gila! Keren abis. Gaktau gue harus takjub atau malah gimana gue sendiri masih galau karna sampe saat gue mendengar itu semua gue belum berhasil juga membuka ‘siakad’ yang emang bapuknya minta ampun. Jadilah gue harus menunggu tiap kali jam akses angkatan gue tiba tetapi hasilnya masih tetep sama bahwa gue tidak bisa mengakses web itu. Udahlahya males juga bahas ‘siakad’… toh dari awal masuk ini kampus gue emang selalu di php-in sama webnya. Jadi ya sabar sajalah.
Akhirnya pada hari senin gue terpaksa dateng ke kampus buat nyoba transkip nilai biar gue bisa dengan segera mengetahui berapa IP yang gue peroleh. Sayangnya gue dateng telat dan loket fakultas gue udah gak mau lagi nerima mahasiswa angkatan 2012 yang mau transkip. Sedihnya minta ampun dan gue udah mulai putus asa dengan birokrasi BAAK yang notabene orangnya judes-judes sekali. Ampun deh. Akhirnya gue pindah loket. Mencoba ngantri di loket Fakultas Ilmu Sosial, dan akhirnya bertemu bapak-bapak yang mungkin hatinya lebih baik daripada hati ibu-ibu di loket fakultas gue. Setelah menyerahkan kertas permintaan transkip nilai dan menunggu beberapa menit akhirnya transkip nilai gue pun keluar. Daaaaaan pas gue ambil itu kertas deg-degannya minta ampun……..dengan perlahan gue arahkan mata gue ke nilai akhir yang adanya paling bawah…..eng ing eng………IP gue 3,84! Gila! Takjub! Sesek nafas! Pengen loncat rasanya. Tapi gue masih inget diri dan akhirnya gue gak berenti-berenti ngucap ‘alhamdulillah’. Takjub banget rasanya liat nilai segitu. Gak sia-sia gue balik malem ikut teater tapi tetep bisa fokus belajar dan ngerjain tugas-tugas yang setumpuk. Gak sia-sia gue pas UAS duduk paling depan karna bangku belakang udah abis direbutin sama anak-anak yang berniat menjauhi pengawas. Gak sia-sia men! Nilai yang selama ini gue perjuangin sendiri akhirnya tidak mengecewakan. Emangsih nilai gue gak sesempurna Olin yang bener-bener bulet 4,00 tapi ya ini aja udah bikin gue bersyukur banget. Nah! Ini juga cobaan buat gue untuk gak jadi orang yang sombong. Jauh lebih bersyukur dibanding temen-temen gue yang IPnya masih kurang. Ini cobaan buat gue untuk bisa lebih semangat lagi dan bisa bantu temen-temen sekeliling biar IPnya bagus juga. Karena seperti kata bokap gue yang selalu mengajarkan ‘kalau kita bersyukur maka nikmat-Nya akan bertambah’.
So pelajaran yang gue dapet adalah ketika kita jangan pernah membandingkan nikmat yang kita peroleh dengan nikmat orang lain. Karena Tuhan itu adil, seadil adilnya hakim, dan pasti Dia udah kasih yang terbaik buat kita. Jadi kita sebagai hamba-Nya harus selalu bersyukur. No need to worry… No need to compare:)
“We can’t choose the end of the story.”
Pada akhirnya kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah bisa memilih akhir dari sebuah cerita yang kita lalui. Seperti kisah yang baru saja dilewati. Hampa dan gersangnya diri lalu dihampiri hujan air sejuk, setelah itu tumbuh bunga-bunga cantik, segar. Untuk beberapa putaran waktu semuanya berlangsung baik, hingga suatu ketika gersang kembali menyelinap, memusnahkan bahagia dengan kejam, bunga-bunga berwarna tak lagi ada. Tinggalah sisa-sisa daun yang masih segar, hanya sedikit. Saat itu juga bahagia berubah menjadi luka. Ternyata tak ada yang lebih indah dari yang pertama juga kedua. Selanjutnya? Untuk menjadi tiga? Hanyalah sebuah bencana.
dua: cinta / tiga: luka
dua: lengkap / tiga: pelahap
dua: bersama / tiga: tiada
Kau ingatkan aku pada setitik luka, hanya pada ketika kulihat bon-bon berwarna.
Kau ingatkan lagi aku pada segaris rindu, melalui bau harum penyemprot mobilmu.
Kau ingatkan aku pada sebuah benci, lewat paraunya teriakan malam itu, senja terlewati dalam balutan pilu, anak manusia yang baru saja runtuh, terseret dalam kasus selingkuh.
Kau ingatkan lagi aku pada serangkai masalalu, ketika waktu tak pernah kita lewati sendiri, sendu, ribuan kupu-kupu terbang menggelayuti bahagia. Jutaan warna kau persembahkan lewat suatu yang kusebut bunga.
Kau ingatkan aku pada mu, dalam tiap huruf yang kususun pada puisi ini.
Cipinang, 12:50
Di sini kami bagai makhluk yang tak punya usia, ditindas dan ditekan secara paksa.
Sama seperti saat zaman Belanda, kami tak pernah punya hak untuk bicara. Sedikit saja angkat suara, akan langsung kehilangan nyawa.
Di sini juga kami disakiti oleh hakim-hakim palsu, yang tak pernah mau tahu, tentang sakitnya kulit ini ditembus peluru.
: ditelan waktu
Melata dalam sunyi, bau-bau yang menempel pada kulitku
Kulanjutkan saja, toh ini memang hidup.
Ada garis lurus yang terus ku ikuti
Di belakang ku ada yang berteriak, mereka rupanya ketakutan, sama seperti aku.
Ah, ini saatnya diam saja
Di sebelahku ada yang meringis, katanya ia begitu merasakan kesakitan, keji, tempat ini begitu keji.
Aku tetap diam saja, melatih diri.
Di depan sana, garis lurus itu semakin memudar, ada banyak warna, tebal.
Aku teruskan semuanya.
Melata dalam luka.
“Aku punya rahasia, jangan beritahu siapa-siapa ya.”
Sebuah pinta dari sang pemilik rahasia, entah apa yang diharap tapi yang jelas bagi seseorang yang mengetahuinya akan dimohonkan dengan sangat, agar tak berbicara tentang hal tersebut kepada siapa pun.
“Aku telah selesai bercerita, sekarang giliranmu.”
Ah, ternyata yang kudapati hanyalah bungkam. Curang! Ia curang sekali. Berani mendengar tapi tak mau berbicara. Padahal aku telah bercerita panjang lebar tentang semuanya. Telah kubuka rahasiaku, tapi dia? Malah tetap diam. Ia tak mau memberitahuku.
“Jangan beritahu siapa-siapa”
Hahahaha, siapa yang peduli. Akan kuceritakan ini kepada setiap orang, agar mereka dapat tahu bagaimana busuknya kamu. Toh ini semua aibmu, bukan? Apa urusanku? Yang akan menanggung malu kan kamu. Ia sungguh busuk.
“Aku telah mengetahuinya…”
Kau yang tak pernah jujur. Aku malah mengetahuinya dari mulut orang lain. Tega sekali kamu tak pernah mengungkapnya sejak awal. Apa kau terlalu takut aku terluka? Sedalam ini? Kini semuanya menjadi semakin parah ketika ku ketahuinya dari orang lain.
“Rahasia…”
Jagalah ini, sampai kapan pun aku bersumpah ingin kau saja yang mengetahuinya. Baiklah jawabku. Aku takkan pernah ingkar.
janji, kali ini rahasia yang menyimpan luka
Jakarta today:”’)
-January 17 2013
Aku ingin menghirup lagi,
Hangat bau kopi yang kau seduh pada pagi itu.
Ingin lagi,
Kubelai mesra rambut anak-anak kita selepas mereka mandi, rapi.
Kau letakkan seragam mereka di atas tempat tidur kita
Kau deretkan celana serta kemejanya,
Khas wangi-wangian yang kau semprot tiap pagi di leherku.
Aku ingin lagi sesekali menggelitik pinggang anak-anak kita
Biar tawa mereka pecah meresap ke langit-langit rumah ini.
Aku ingin,
Ingin kubiarkan waktu memeluk kalian dalam satu putaran,
Agar sisanya hanyalah menjadi milikku.
“bu, kenapa kau beri nama aku Aditya Prawira?” tanya Adit. Bocah kecil berusia 11 tahun ini dengan polos menanyakan hal itu kepada ibunya.
“kenapa setibanya kau menanyakan hal itu nak? Tidakah ada pertanyaan lain setelah kau lelah pulang dari sekolah?” jawab ibu dengan lembut.
“tadi di sekolah, teman-teman ku sibuk membahas tentang arti nama mereka. Ada yang memberi tahu arti namanya yang diambil dari bahasa Yunani, ada juga yang namanya diambil dari bahasa Jawa. Lalu namaku? Dari bahasa apa bu?” sahut Adit dengan wajah polosnya.
“namamu bukan dari bahasa apa-apa nak. Ibu yang sengaja mengarangnya sendiri.”
“lho? Mengarangnya sendiri? Bukankah di dunia ini banyak orang yang bernama Aditya bu?” balas Adit dengan wajah heran sambil menatap wajah ibunya yang sedang sibuk menjahit beberapa helai kain.
“justru itu nak. Namamu ibu ambil dari nama seseorang.” Jawaban menggantung kembali dilontarkan oleh wanita muda ini. Terhitung muda, karena di usia 35 tahun, ia telah memiliki dua orang anak. Yang pertama adalah Adit, yang usianya telah 11 tahun dan yang kedua adalah Rania, usianya baru menginjak angka 5 tahun.
“wah, apakah ada pahlawan yang bernama Aditya? Jika ada, seperti apa wajahnya bu? Tampan seperti aku?” lagi-lagi Adit melontarkan pertanyaan dengan wajah polosnya.
“bukan nak, ia bukanlah pahlawan seperti yang ada di buku-buku sejarahmu. Ia adalah pahlawan hidupku dulu.” Ibu tak pernah menyelesaikan pertanyaan dengan rapi. Sekali lagi, masih menggantung.
“siapa dia bu? Seperti apa wajahnya? Seperti apa suaranya? Apa sebab yang menjadikannya pahlawan untuk ibu?” Adit terus bertanya. Antusias.
“ia tampan, rupanya seperti ayahmu. Kulitnya putih, rambutnya hitam dan tebal seperti mu. Giginya rapi dan wangi tubuhnya sangat khas. Tubuhnya tak begitu besar, malah terhitung kurus untukku dan tingginya pun setara dengan ibu, tak seperti ayahmu yang jauh lebih tinggi dariku.” Jawab ibu dengan wajah mengawang sambil memberhentikan mesin jahitnya.
“bu, siapa dia? Beritahu aku. Bisa-bisanya ia menjadi pahlawan di hidup ibu dan namanya sama seperti ku. Kulit serta rambutnya juga sama denganku? Waaah dia pasti sangat tampan. Pahlawan dari daerah mana yang hadir setampan seperti yang ibu sebut tadi.” Kalimat-kalimat polos dari mulut kecil Adit yang usianya terhitung masih sangat muda.
“kau tahu bahwa setiap manusia pasti memiliki masa lalu?”
“ya, aku tahu bu. Masa lalu itu seperti sejarah yang aku pelajari di sekolah bukan? Peristiwa ataupun kejadian yang pernah terjadi di hidup kita?” sahut Adit sambil perlahan membuka tali sepatunya.
“ya, benar sekali nak. Nah, namamu ku ambil bukan dari bahasa apapun yang ada di dunia ini. Tapi kuambil dari masa lalu ku sendiri, nak.” Ibu menoleh ke arah adit yang sedang duduk dilantai sembari membuka tali sepatunya. Adit menoleh ke arah ibunya.
“maksud ibu? Masa lalu? Adakah manusia bernama Adit yang dulunya hadir di hidup ibu?” Siswa kelas 6 Sekolah Dasar ini mengernyitkan dahinya sembari melepas pandang kepada ibunya.
“benar nak, kita hidup di dunia takkan pernah bisa lepas dari masa lalu. Seperti halnya jika kita sedang berkendara, sesekali kita harus melihat kaca spion untuk melihat ke arah belakang, namun jika terlalu lama kita melihat ke arah belakang terkadang kita malah tidak memperhatikan yang ada di depan dan membuat kita sendiri celaka. Artinya, masa lalu hanyalah perlu ditengok sesekali, tidak setiap waktu. Karena dengan melihat masa lalu kita dapat belajar tentang segala kesalahan yang pernah kita perbuat dan kita akan belajar untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan.” Jawab ibu dengan bijak sembari meneruskan helai demi helai kain yang sedang dijahit.
“oh jadi seperti itu. alu apa hubungannya dengan namaku bu? Dengan sosok Adit yang tadi ibu ceritakan?” kali ini wajah Adit terlihat bingung mencerna kalimat-kalimat yang baru dilontarkan oleh ibunya.
“Aditya Prawira adalah masa lalu ku, nak. Ia adalah manusia terbaik yang pernah hadir di dalam hidupku dulu. Ia sangat mencintaiku, pun aku begitu.” Jawab ibu dengan air mata di pelupuk matanya.
Adit heran, ia letakkan sepatu kanannya yang telah dibuka. Lalu.
“sebaik itukah dia pada ibu? Lalu mengapa aku diberikan nama yang sama dengan nama dia bu?” pertanyaan belum usai dari bocah kecil itu.
“karena aku sangat mencintainya nak. Aku berharap engkau dapat menjadi seperti dia. Tak terbatas kebaikan yang ia berikan padaku. Aku ingin kau seperti dia nak. Mencintai seseorang tanpa pamrih. Tanpa dendam ia lepas aku untuk hidup bersama ayahmu, nak.” Air mata ibu jatuh, mesin jahit berhenti.
“di mana ia sekarang bu? Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan seseorang yang kau harapkan sama seperti ku” Adit mulai mengerti.
“ia telah pergi untuk selamanya saat kau benar-benar menghirup udara di dunia nak” ibu menatap wajah mungil Adit dalam-dalam. Haru menyelimuti sore di rumah kecil sederhana itu.
“bu, aku janji padamu, aku akan seperti ia. Berbuat baik tanpa batas. Jangan usai tentang cinta yang pernah ibu hinggapi padanya. Aku masih hidup, aku masih bernapas, di sisimu, bu. Ibu masih bisa mencintainya, seperti ibu mencintaiku, seperti juga kita yang mencintai ayah yang telah tiada.” Adit begitu pandai merangkai kata-kata, wajarlah jika nilai Bahasa Indonesianya paling bagus di rapor.
Sembari mengusap kepala anaknya ibu berkata,
“begitulah masa lalu, nak. Mengajarkan kita tentang banyak hal. Tentang apa yang pernah kita dapati, dan tentang apa yang pernah hilang dari kita. Aku kehilangannya dulu, tapi kudapati kau sekarang. Sama seperti kita kehilangan ayahmu, lalu kita dapati Rania sekarang. Yang harus kita lakukan adalah jangan pernah berhenti bersyukur, nak. Sebab dengan bersyukur, Tuhan akan selalu menambah nikmat yang ia berikan.” Ibu tersenyum, dengan manja Adit menyandarkan kepalanya di paha ibunya. Dengan mata yang masih sembab sebangun dari tidur, Rania keluar dari balik gorden kamarnya, memeluk ibu dan kakak laki-lakinya.
Tepat 118 jam aku dikoyak-koyak pilu. Mengelabu haru biru bercampur menjadi satu. Malam ini kusandarkan pengharapan dari sebuah kata. Mungkin aku adalah manusia yang paling bodoh, hanya mampu bertahan untuk menunggu, sedang diriku tak pernah sanggup untuk memulai. Telah aku sandarkan rindu kita pada peron kereta sejak 118 jam yang lalu. Sejak matahari di langit sore itu masih memandang kita, terang. Sejak saat hangat masih menggantung setia pada ruas-ruas jemari kita. Hingga kini waktu telah berlalu dan semuanya terasa begitu sendu. Kulihat jam di tangan yang penuh gemetar sedari tadi, detiknya perlahan menambah waktu kerinduan yang telah kupendam selama 118 jam. Jangan… jangan sampai pada satu jam berikutnya, kataku dalam hati. Tangan kananku menggenggam erat ponsel. Hanya butuh waktu dua detik jika ingin ku tekan tombol hijau lalu ku telepon dirimu. Semuanya hanya demi memecahkan 118 jam yang sebentar lagi waktunya bertambah. Gigil semakin menyelimutiku. Menunggu adalah hal terburuk yang rasanya tak pernah aku ingin pinta pada Tuhan. Menunggu adalah sendi-sendi dari rasa pilu yang melekat tiap kali yang ditunggu tak pernah hadir. Hanya dalam kurun waktu satu menit kulirik layar ponsel ku lagi. Menatapnya penuh harap. Adakah sebuah pesan singkat atau panggilan masuk yang sekali lagi dapat meretas 118 jam ini. Dan itu semua semakin menjadi mustahil ketika hanya butuh beberapa menit lagi untuk memasuki waktu yang semakin bertambah. Kini telah 119 jam ku menunggumu. Menunggu sekadar kata dan sapa yang pernah kuhirup dalam 119 jam yang lalu. Kata dan sapa yang menjadikanku makhluk bahagia sedunia. Aku merambat dalam keputusasaan. Sebeginikah aku harus menunggu? Menunggu untuk tersenyum dan merasakan menyentuh rona bahagia? Aku hampir mati dalam waktu kini. Waktu yang akan membawa ku pada 120 jam yang lalu, semakin bertambah, dan rindu ini semakin tebal. Dibalutnya rapi oleh segala harap. Pun aku menjadi makhluk yang tersesat.
-telah kuretas malam ini, sendiri
![]()
Kita hampir bercinta.
Iya. Hampir saja. Siang itu begitu membara. Aku bahkan tidak tahu, apa yang menggerakkan kita....
Last stop before paradise!